Cari Blog Ini

Selasa, 01 April 2014

oyong (kisah sederhana tentang kebaikan hati)

Entah mengapa selalu saja melihat seseorang yang baik hati, ingatanku selalu kepada seseorang yang berada di masa lalu. Dia bukanlah seorang kekasih, bukan seorang yang merupakan bagian dari keluarga. Nama panggilannya Oyong, seorang teman biasa saja, bukan seorang teman akrab apalagi seorang sahabat. Kenal dan berada dalam lingkar pergaulan semasa masih sekolah dasar kelas 3 , di sebuah desa yang berjarak sekitar 13 KM saja dari ibu kota kabupaten. Bukan daerah terpencil sebenarnya apalagi dilewati oleh jalan raya propinsi yang menghubungkan dua kabupaten. Namun walau begitu bila saat ini dibuat suatu kesimpulan tentang kesan dimasa itu aku beranggapan desa ini kehidupan sosial masyarakatnya lebih individualis dari desa-desa biasa dimasa itu. Kesimpulan yang diperkuat oleh pendapat anggota keluarga yang membandingkannya dengan desa tempat kami sebelumnya menetap (Orang tua lelaki adalah seorang anggota Polisi yang tugasnya sering berpindah - pindah).  

Oyong adalah seorang anak lelaki yang tidak terlalu menarik perhatian. Secara fisik dan penampilan dia bertubuh normal seperti anak - anak lain, dibandingkan dengan keadaan fisikku, Oyong berkulit lebih putih serta bertubuh lebih kurus dan tinggi, namun itu tidak membuat dirinya istimewa, barangkali itu karena sifatnya yang terlalu pendiam dan tidak suka bergaul. Kesan pertama bagiku ketika bertemu dengannya adalah tidak ada kesan. Begitulah arti keberadaan Oyong waktu itu. 

Lalu mengapa ingatan tentang Oyong selalu muncul setiap berhadapan orang yang memiliki hati yang baik? 
Adalah satu kisah yang membuat torehan dalam dasar ingatanku? Berikut inilah ceritanya. 

Belajar mengaji buat anak - anak seusia kami pada waktu itu merupakan hal yang diwajibkan oleh orang tua masing - masing. Hampir tidak ada anak - anak yang tidak mendapatkan pendidikan Al Quran yang diadakan pada surau - surau, Akan halnya diriku juga harus pergi ke surau setiap pukul 14.00,  hingga pada suatu hari di surau kisah tentang kebaikan hati dimulai. 

Seperti biasa anak - anak ramai selalu bermain di halaman surau sebelum pelajaran mengaji dimulai. Namun  keramaian saat itu berbeda dari biasa, tampaknya ada yang memiliki sesuatu yang menarik perhatian sehingga dikerumuni oleh anak - anak lain. Aku yang datang belakangan ikut bergabung dan melihat yang mereka kerumuni adalah  beberapa ekor serangga seperti kumbang jinak berwarna hijau yang sangat indah dengan kilauan warna warna kuning dan merah terkena cahaya matahari. Itulah pertama kali aku melihat kumbang yang seperti itu dan sangat menyukainya, terasa hati ingin memilikinya juga. Riuh rendah suara anak-anak menyebabkan pertanyaanku bagaimana mereka mendapatkan kumbang kumbang itu tidak mendapat perhatian. Tidak ada yang menanggapinya hingga Ustad meminta kami untuk masuk untuk segera mulai pelajaran mengaji. 

Kelas mengaji telah selesai, aku hampir saja mau ambil ancang ancang untuk berlari meninggalkan surau menempuh hujan yang mulai deras, tepukan di bahu dan suara seseorang memanggil namaku membatalkannya. Kulihat seorang anak berada didekatku, dia yang menepuk bahu dan menyebut namaku tadi. Aku lupa namanya siapa, tapi aku tahu dia juga satu kelas di sekolah, tapi dia ini tidak pernah gabung bersama bermain waktu istirahat sekolah. Susah payah aku mengingatnya namun tetap tak ada nama yang bisa kusebutkan, aku terdiam tanpa ada percakapan apapun sampai dia menanyakan apakah aku ingin memiliki serangga yang disebutnya Kumbang Janti itu. Aku mengiyakan dan menanyakan bagaimana caranya. Dia lalu menjanjikan akan membawa aku ke suatu tempat besok hari, sepulang sekolah. Hujan reda dan aku pamit padanya untuk pulang. Anak itu mengiyakan sambil juga beranjak berlari kecil bersama yang lainmeninggalkan surau.

Berjarak cukup jauh mungkin hampir 2 KM dari sekolah setelah mendaki bukit kecil kami sampai  di hamparan tanah yang cukup luas. Jelas nampak berbeda dengan sekelilingnya yang ditumbuhi oleh semak belukar, hamparan itu seperti padang rumput dengan beberapa batang pohon kapuk yang menjulang kekurangan daun. Kesanalah Oyong (nama yang akhirnya kuingat sewaktu hendak tidur malam) membawaku untuk mendapatkan Kumbang Janti. Oyong memanjat beberapa pohon kapuk yang pada batangnya terdapat tonjolan duri. Dengan susah payah dia menjangkau kumbang yang berada di batang dan dahannya. Aku menunggu saja dekat pohon sambil memegang kantong plastik bekas bungkus gula kiloan yang akan dijadikan tempat hasil tangkapan. 

Lumayan lama juga menunggu hingga kantong terisi empat ekor Kumbang Janti. Merasa cukup aku mengajak Oyong pulang. Kembali berjalan menuruni bukit dan hingga kami sampai didepan rumahku. Oyong menolak ketika aku mengajaknya singgah kerumah, katanya dia harus juga cepat - cepat pulang. Oyong juga menolak ketika aku hendak menyerahkan kantong plastik yang berisi tangkapannya, katannya semua kumbang itu untuk aku. Oyong meninggalkanku yang berdiri terheran heran. Mengapa Oyong begitu baik hati mau menangkapkan kumbang yang begitu sulit untuk mendapatkannya untukku? Oyong bukanlah teman yang biasa aku akrabi di sekolah dan tempat mengaji. Namanya saja tidak termasuk dalam ingatanku.

Semenjak kepergian kami mencari Kumbang Janti, aku menjadi satu - satunya teman Oyong di sekolah dan surau. Pertemanan yang tidak merubah apa - apa dalam keseharian Oyong yang tetap penyendiri dan pendiam. Di pertemanan kami selanjutnya pada banyak kesempatan, aku dapat merasakan kebaikan dan ketulusan hati Oyong.

Waktu terus berjalan, hampir tiga tahun bapak bertugas di desa itu, hingga bapak mendapat penugasan baru ke ibukota kabupaten. Tidak ada perpisahan dengan teman - teman di sekolah dan di surau. Tidak juga dengan Oyong. Pindah tugas, seperti biasa, memang selalu datang tiba - tiba dan cepat. Kepindahan keluarga kami seperti menjadi garis batas hingga aku tak pernah lagi bertemu dengan Oyong.

Begitulah Oyong yang ketika itu baru kusadari kehadirannya, terabaikan dan tidak mendapat perhatian cukup sebagai teman itu membuktikan bahwa banyak hati yang baik dan tulus tersembunyi dalam diri seorang yang sebelumnya tak pernah kita sangka - sangka.Kebaikan hati yang bahkan tetap tertanam jauh dalam bawah sadar walau hampir 36 tahun lamanya.